Bertanam Padi Hidroponik, Alternatif Pemenuhan Pangan Keluarga

Jakarta, Technology-Indonesia.comUrban farming atau pertanian kota kian menjadi tren, bahkan gaya hidup masyarakat perkotaan. Masyarakat perkotaan tertarik dengan urban farming karena keterbatasan lahan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan peluang usaha kreatif.

Lahan yang terbatas biasanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam berbagai jenis komoditas sayur-sayuran bahkan tanaman buah semusim. Seiring berjalannya waktu, padi sudah dilirik dan diminati masyarakat kota menjadi komoditas andalan model ini.

Seperti halnya konsep urban farming atau family farming yang diterapkan di kawasan Taman Sains dan Teknologi (TST) Padi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Pendekatan konsep yang dikembangkan adalah pertanian untuk memenuhi kecukupan pangan keluarga dan dioptimalkan sebagai produksi pangan rumah tangga.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Fadjry Djufry saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (3/6/2020) menyampaikan bahwa pembangunan pertanian masa kini dan masa yang akan datang dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang semakin kompleks.

“Beberapa isu yang muncul seperti isu ketahanan pangan, proses produksi yang efisien, peningkatan kesejahteraan petani, produk pertanian yang ramah lingkungan hingga isu alih fungsi lahan perlu dipertimbangkan dalam membangun pertanian kedepan,” urainya.

Salah satu program yang diluncurkan Kementerian Pertanian untuk menjawab tantangan masalah pangan kedepan, baik dari sisi produksi (ketersediaan), distribusi dan pemanfaatan pangan yang beragam, berigizi seimbang adalah program family farming.

“Berbagai inovasi teknik pertanian dikembangkan oleh Balitbangtan mendukung program tersebut. Salah satunya yang dikembangkan oleh BB Padi di TST Padi,” terang Fadjry.

Family Farming

Family farming yang diterapkan di TST Padi terdiri dari displai tanaman pangan, hortikultura, ternak, pengomposan sampah dan tanaman hias. Tanaman padi ditanam dengan metode hidroponik dikombinasikan dengan budidaya ikan. Sementara unit hortikultura dibudidayakan dengan pertanaman di bedengan, polybag, maupun pendekatan hidroponik sayur.

Selain beragam komoditas tanaman, untuk memenuhi permintaan harian konsumen akan daging ayam dan telur, di dalam family farming terdapat ternak ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB).

Pengelolaan sisa sampah rumah tangga maupun jerami sisa pertanaman padi juga difasilitasi dalam percontohan pengomposan dengan memanfaatkan aneka dekomposer. Diharapkan hasil kompos dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam.

Kepala BB Padi, Priatna Sasmita dalam wawancara singkat menjelaskan keberadaan lahan pertanian perkotaan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan menopang ekonomi masyarakat.

“Salah satu solusi yang kami tawarkan adalah adalah model pertanaman padi secara hidroponik. Kenapa demikian? sudah barang tentu agar dapat menyediakan kecukupan pangan masyarakat pada kondisi lahan terbatas seiring peningkatan konsumsi, maka tidak menutup kemungkinan untuk melakukan budidaya padi di luar lahan sawah dan konsep hidroponik bisa menjadi pilihan,” terang Priatna.

Model ini menurutnya cocok dikembangkan pada family farming atau urban farming dengan tujuan selain penyediaan sumber pangan pada lahan terbatas serta menjadi bagian estetika atau keindahan pekarangan. Model ini memerlukan keterampilan khusus dalam pengelolaannya.

Padi Hidroponik

Berawal dari komunitas Bengkel Mimpi di Pagelaran, Malang yang memperkenalkan secara masif budidaya padi dengan konsep hidroganik yang merupakan usaha padi organik dengan dengan memadukan pola budidaya padi dan ikan secara terpadu. Konsep ini menggunakan pendekatan organik untuk manajemen haranya hanya dari pakan ikan.

Tim Family Farming TST Padi melakukan pendekatan yang sedikit berbeda terhadap manajemen hara yang diberikan. Nutrisi yang disediakan tidak hanya berasal dari pakan ikan namun dengan tetap menambahkan kebutuhan hara makro (N, P, dan K) yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan padi serta aplikasi kapur untuk mengontrol kestabilan pH dalam air.

“Sumber hara 110 kg/ha N, 36 kg/ha P2O5 dan 60 kg/ha K2O yang dikonversikan per satu luasan unit sistem hidroponik (6 m2) dan diaplikasikan dalam 10 minggu serta 2 karung kapur pertanian dimasukkan ke dalam kolam ikan secara bertahap. Pupuk dilarutkan dalam 4.800 ml air dan diaplikasikan ke tanaman per minggunya,” jelas Nur Wulan Agustiani, peneliti sekaligus penanggungjawab unit family farming TST Padi.



Media yang digunakan untuk ‘menanam’ padi menggunakan konsep hidroponik ini adalah sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 serta ijuk kelapa untuk pinggiran netpot guna menopang media supaya tidak larut terbawa air.

Budidaya ikan yang diintegrasikan dengan padi pada metode ini menggunakan jenis ikan mujaer dan nila merah yang relatif tahan terhadap penggunaan pupuk kimia. “Pakan ikan yang diberikan setiap hari secara tidak langsung memberikan tambahan hara untuk tanaman padi,” tambahnya.

Untuk mencegah tanaman rebah, Wulan bersama tim menyarankan untuk membuat lubang paralon tidak terlalu besar, sehingga dapat menampung setengah hingga tiga perempat badan netpot atau gelas plastik yang digunakan sehingga dapat stabil berdiri.

“Masih adanya rongga udara dalam paralon membuat perakaran berkembang baik dan justru saling mengikat antar tanaman,” ujarnya.

Keragaan pertanaman hidroponik padi ini cukup menggembirakan. Anakan produktif terbentuk optimal dengan vigor yang menarik. Penggunaan pestisida nabati untuk penanggulangan hama dan penyakit dilakukan dengan harapan mengurangi aplikasi kimiawi pada metode budidaya ini.

“Saat ini menjelang panen, kami masih menunggu data analisa laboratorium tanaman untuk memberikan data perbandingan komponen hasil varietas Inpari 32 yang kami gunakan pada metode budidaya hidroponik dan budidaya di lahan sawah pada umumnya,” lanjutnya.

Wulan menambahkan, pada musim mendatang pihaknya akan mencoba memanfaatkan kompos jerami sisa panen sebagai media tanam serta mencoba varietas padi fungsional yang telah banyak dilepas sebagai upaya peningkatan nilai usaha.

“Sehingga akan lebih berpeluang menjadi pola budidaya zero waste dan berdaya manfaat lebih tinggi,” tutupnya. (Raisa/Shr)