Hasil Pertanian

3 Usaha Meningkatkan Hasil Pertanian

Rahasia meningkatkan Hasil Pertanian.

BANDUNG— Pasti Sobat tahukan kalau Indonesia merupakan negara agraris? Yap, negara yang kaya akan hasil pertanian karena mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani pangan, peternak, dan juga agroindustri. Meski demikian, hasil pertaniannya masih belum bisa mencapai target yang diharapkan. Lantas bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian ?. Keberhasilan dalam usaha meningkatkan hasil pertanian memang dipengaruhi oleh banyak hal, namun terdapat beberapa cara yang dapat diusahakan agar hasil pertanian meningkat. Yuk simak 3 Rahasia Meningkatkan Hasil Pertanian !

Baca juga : Meningkatkan GDP dengan Precision Farming

1. Menanam Tanaman yang Sesuai

Menanam tanaman yang sesuai

Menanam Tanaman yang Sesuai

Nah Sobat, usaha meningkatkan hasil produksi pertanian bisa mulai dari hal yang mudah nih yaitu menanam tanaman yang sesuai. Sebenarnya sesuai dalam hal apa aja sih? dalam meningkatkan hasil pertanian, tanaman harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan baik untuk suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan juga curah hujan. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi peningkatan hasil pertanian. Karena hal tersebut bersinggungan dengan tanaman setiap harinya sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Terdapat 4 zona tumbuh tanaman yang dapat diklasifikasikan berdasarkan suhu udaranya, ketiga zona tersebut yaitu:

    • zona iklim panas

Pada zona iklim panas, suhu udara berada pada kisaran 22ºC-26,3ºC. Tanaman yang cocok untuk ditanam pada zona ini yaitu padi, tembakau, palawija, kakao, karet, kopi (robusta), tebu, kelapa, cokelat, dan jagung.

    • zona iklim sedang

Pada zona iklim sedang, suhu udara berada pada kisaran 17,1ºC-22ºC. Tanaman yang cocok untuk ditanam pada zona ini yaitu teh, kina, kopi (robusta), karet, apel, kakao, straberi, cokelat, dan hortikultura.

    • zona iklim sejuk

Pada zona iklim panas, suhu udara berada pada kisaran 11,1ºC-17,1ºC. Tanaman yang cocok ditanam pada zona ini yaitu pohon pinus, teh, apel, strawberi, paprika, kopi (arabika), cemara, dan hortikultura secara umum seperti kentang dan wortel.

    • zona iklim dingin

Pada zona iklim dingin, suhu udara berada pada kisaran 6,2ºC-11,1ºC. Tanaman yang cocok ditanam pada zona ini yaitu bukan dari golongan tanaman budidaya. Tanaman yang bisa tumbuh pada zona ini yaitu lumut (Bryophyta) dan bunga edelwais.

2. Cara pengolahan tanah yang baik

 

Tahukah Sobat pengolahan tanah pertanian merupakan kunci paling krusial dalam meningkatkan hasil pertanian? Pasti Sobat bertanya-tanya, apa sih pentingnya mengolah lahan dengan benar itu? Tanah adalah salah satu media tanam yang harus diolah terlebih dahulu agar tanah menjadi subur dan mampu menjadi media tanam yang baik untuk tanaman.

Pengolahan lahan merupakan suatu cara untuk memperbaiki struktur tanah, aerasi serta drainasi pada tanah agar dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Jika kebutuhan tanaman akan air dan unsur hara terpenuhi, maka pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik dan akan memberikan hasil panen yang melimpah loh. Biasanya pengolahan lahan dilakukan dengan menggunakan alat seperti bajak, cangkul, maupun garu sehingga tanah menjadi gembur dan lembek. Yuk simak teknik apa saja yang dapat dilakukan dalam mengolah lahan pertanian!

    • Land clearing

"<yoastmark

 Upaya ini adalah pembersihan lahan yang akan dijadikan area pertanaman. Upaya ini secara manual dilakukan menggunakan alat sederhana seperti cangkul, parang, dll. Sedangkan land clearing yang dilakukan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesin pertanian seperti traktor.

    • Penggaruan Tanah

Penggaruan tanah dapat dilakukan menggunakan garu, cangkul atau traktor untuk menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah yang keras, sehingga struktur dan tekstur tanah memungkinkan untuk ditanami. Sebelum penggaruan sebaiknya dilakukan pemupukan terlebih dahulu. Pemberian pupuk organik atau anorganik saat penggemburan menjadikan pupuk dapat teraduk secara rata pada lapisan olahan tanah.

    • Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur dan tercukupi kebutuhan unsur haranya. Upaya dasar yang diberikan lebih awal dapat merangsang perkembangan akar lebih dalam. Jika tanah diketahui bereaksi asam, maka petani disarankan untuk menaburkan kapur dolomit di lahan pertanian untuk menaikkan pH tanah.

    • Pembajakan Tanah

Pembajakan tanah dilakukan pada kondisi setelah turun hujan atau sebelum turun hujan. Ini karena pada kondisi tersebut tanah memiliki struktur yang tidak teralu keras dan juga tidak terlalu lembek, dengan begitu tanah akan mudah dibajak. Pembajakan tanah dapat dilakukan sebanyak 2 kali dan dengan kedalaman bajak 12-20 cm dari permukaan tanah.

    • Teknik Konversi

Teknik konversi dibagi menjadi dua yaitu olah tanah minimum (OTM) dan olah tanah strip (Strip Tillage). Olah Tanah Minimum (OTM) adalah teknik pengolahan tanah yang dilakukan dengan mengurangi frekuensi pengolahan. Yang artinya pengolahan dilakukan hanya 1 tahun sekali atau 2 tahun sekali tergantung dari tingkat kepadatan tanah. Sedangkan untuk Olah Tanah Strip (Strip Tillage), pengolahan ini hanya dilakukan pada strip-strip yang akan dilakukan penanaman saja dan dibuat mengikuti kontur tanam. Yang artinya ketika ingin menanam tanaman maka yang akan diolah hanya barisan yang akan disebar benih, bagian yang tidak disebar benih tidak diolah. tanah strip (Strip Tillage) pengolahannya hanya dilakukan pada strip atau alur yang akan dilakukan penanaman. Strip atau alur tanaman ini dibuat dengan mengikuti kontur tanah. Dengan artian bagian yang akan diolah adalah barisan yang sudah disebar benih.

3. Manajemen pengelolaan air

Mengatur Pengairan dengan Baik

Mengatur Pengairan dengan Baik

Air merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. mengatur pemberian air harus terus dilakukan agar dapat menghasilkan hasil pertanian yang maksimal karena sebagaimana kita ketahui, air merupakan zat yang melarutkan dan mengangkut unsur hara dari dalam tanah ke akar tanaman. Meski demikian, sistem pengairan pada tanaman juga juga harus dilakukan dengan tepat baik secara waktu maupun volume air yang diberikan. Hal tersebut dikarenakan tanah juga memiliki keterbatasan menyerap air dalam satu waktu. Jadi sebenarnya, berapa sih air yang dibutuhkan oleh tanaman?

Baca juga : Bantu Petani Dengan Irigasi Pintar

    • Jangan terlalu basah

Intensitas pengairan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tanaman yang sedang dibudidayakan, jangan sampai pentingnya pengairan pada tanaman yang dilakukan menyebabkan kondisi tanah menjadi terlalu lembab. Hal ini bisa menjadi masalah baru bagi tanaman yang memiliki daya tahan rendah terhadap kelembaban yang tinggi. Hal ini sering terjadi pada tanaman mangga, jambu biji, dan jambu mete yang akan jarang berbunga jika lingkungan sekitar kebun terlalu lembap dan becek.

    • Mengendalikan produktivitas tanaman

Air sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman sehingga pengairan yang baik dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Ada beberapa jenis tanaman yang perlu dihentikan pemberian airnya untuk merangsang pertumbuhan bunga. Ada pula tanaman yang harus diberi pengairan dengan cara penggenangan untuk menumbuhkan bunga seperti tanaman belimbing, jeruk, apel, pepaya, salak, dan pisang.

Penulis : Ayu Rizka Ananda

Leave a Reply